Arsip

catatan ketiga

08.29.00

Astaghfirullah! Aku telah bersalah dengan seseorang di Facebook. Aku kira ia memalsukan sejarah kenabian, tapi setelah diperhatikan lagi ternyata salah. Bahkan ia menggiring opini orang yang bertuhan tapi tidak beragama (baca:atheis) bahwa ia memuji orang atheis dengan selalu berfikir akan Tuhan akan menjadi pribadi yang taat kepada Tuhan melebihi orang yang hanya beragama secara keturunan semata (baca: hanya menjadi muslim saja tanpa mengamalkan ajaran Islam). Dengan catatan, ia terus menerus menimba ilmu agama dan mengamalkannya.
Setelah aku pikir, mungkin itu dikarenakan dalam membaca tulisan tersebut aku diliputi rasa emosional yang menjadikan aku tidak rasional. Tidak lagi berfikir jernih sebagaimana saat seorang Atheis bertanya tentang Allah tapi harus rasional. Bukan hanya diyakini dengan iman semata. Semoga setelah ini aku tidak lagi menjawab pertanyaan seseorang hanya dengan emosi semata. Sebab, akibatnya akan merugikan diri sendiri.
Aku senang sekali mendengarkan musik dan bagiku musik itu asik untuk didengar dan tidak haram didengar kecuali itu mengandung unsur ajakan untuk bermaksiat kepada Allah SWT. Memang, harus diakui ada lagu – lagu yang mengajarkan seseorang untuk bermaksiat tapi banyak juga yang tidak mengandung unsur tersebut. Pendapat itu perlu disampaikan karena ada anggapan bahwa mendengarkan musik itu haram.
Aku bukanlah ahli agama, tapi aku sedikit mengerti tentang agama sebab aku adalah alumnus pondok pesantren. Dan aku bisa membaca kitab kuning meski sekarang sudah tidak lagi membacanya karena sewaktu aku keluar dari pesantren aku tidak membaca kitab – kitab tersebut. Tapi kalau ada orang yang bertanya tentang kosa kata bahasa arab – apalagi gramatikalnya – insya Allah aku bisa menjawabnya.
Saat aku belajar di pesantren dulu, aku sangat suka sekali dengan pelajaran nahwu – shorof. Sebab, itu adalah kunci membaca kitab kuning. Kalau tidak mengerti nahwu – shorof, maka dapat dipastikan tidak bisa baca kitab kuning. Sebab, kitab kuning tidaklah berharokat sebagaimana alqur’an yang kita kenal sekarang yang berharokat. Lagipula, memang aku sangat suka sekali dengan pelajaran bahasa. Entah itu arab ataupun inggris.
Kadangkala, saat menterjemahkan sebuah kosa kata, tidak aku terjemahkan ke bahasa indonesia. Tapi ke bahasa arab lagi jika kebetulan aku tahu sinonimnya.
Hm,,,,,, jadi teringat masa – masa indah dipesantren dulu. Susah senang dijalani bersama. Makan satu nampan ramai – ramai. Kadang suka hutang makanan di kantin dan akhir bulan baru dibayar dan lain sebagainya. Banyak kenangan indah yang kualami disana.
Yang sangat kusuka dengan pesantrenku dulu adalah kedisiplinannya. Harus tepat waktu. Seperti sholat berjama’ah dimasjid, tiga puluh menit sebelum adzan sudah harus ada dimasjid. Kalau tidak, akan kena hukuman. Macam – macam. Sesuai kebijakan pengurusnya. Kadang disabet dengan sajadah yang dilipat. Jangan ditanya tentang rasa sakitnya.
Banyak alumni tamatan pesantrenku jadi “orang”. Kebanyakan dari mereka membuka pesantren baru atau menempuh pendidikan yang lebih tinggi alias kuliah. Seringnya ke luar negeri seperti Yaman atau Mesir. Kalaupun ke luar negeri, biasanya ke UIN. Bahkan, saking banyaknya alumni pesantrenku yang kuliah di sana, UIN diistilahkan atau diganti namanya jadi Daarul Rahman 4. Bahkan kabarnya ada yang jadi politisi dan pengusaha. Intinya, aku bangga dengan pesantren tempat aku menimba ilmu.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar

tinggalkan jejak dibawah ini
PS:
sekiranya ingin menambah tali silaturrahim, silahkan follow twitter saya di @RealRiMuTho