Arsip

catatan kedua

19.34.00

Banyak membaca maka harus juga diimbangi dengan banyak menulis biar ilmu yang didapat tidak hilang begitu saja. Ia harus ditularkan dengan berbagai cara termasuk dengan tulisan.
Meski ini adalah catatan pribadi, tapi aku sangat menghargai tulisan yang aku buat dengan susah payah. Aku mewajibkan diriku sendiri untuk membaca – minimal – sepuluh halaman per hari dan menulis – minimal – dua halaman. Tidak itu saja, akupun selalu memperhatikan perkembangan dari dua hal tersebut dengan mencatatnya dalam sebuah kertas yang kuberi nama “hal yang harus kulakukan” dengan harapan aku bisa disiplin. Dan, aku juga harus muroja’ah hafalan alqur’an – minimal – satu juz perhari. Biar hafalan qur’anku semakin melekat diotak dan tak bisa lepas lagi. Kadang kalau sudah yakin dengan hafalan yang kupunya, aku mengetesnya dengan menjadi imam sholat jama’ah. Ini untuk menguji, seberapa kuat hafalan qur’an yang kupunya. Kadangkala, aku hafal tatkala sedang muroja’ah sendirian tapi ketika aku minta disimak hafalan quranku, hilang. Ada saja ayat yang hilang; kadang melompat dari satu ayat, ke ayat yang lainnya. Sebab, seringkali kalimat yang ada didalam alqur’an itu mirip – mirip. Cek saja, berapa ayat didalam alqur’an yang berawalkan “yaa ayyuhall ladziina aa manuu” atau berakhiran “ulul albab” atau “a fa laa ta’qiluun”.
Aku ingin menjadi sastrawan, menulis cerita fiksi yang bisa dijadikan pelajaran untuk pembaca. Menulis novel lebih tepatnya. Sekarang sih, sedang berada di bab 3. Entah kapan aku bisa melanjutinya. Sekarang aku lagi senang menulis untuk catatan harian. Karena memang dari awal aku sudah nyaman dengan ini. sejak aku mengatakan kepada seorang teman kalau aku ingin menjadi novelis dan ia menyarankan untuk membuat catatan harian sebagai ajang latihan dalam menulis, aku terus menulis sebanyak mungkin dalam buku harianku. Lebih sepuluh buku tulis yang jadi korban kejailan tangan “kreatif” – ku. Baik yang 32 halaman atau yang 52 halaman.
Meski pada akhirnya jadi kebablasan.
Harusnya aku sekarang latihan menulis novel. Membuat alur cerita, membuat outline bab per bab dan mulai riset kecil – kecilan untuk mendukung dan menguatkan tulisanku.
Sekarang sih, sedang stuck dibab 3. Macet. Mungkin nanti aku lanjutkan ceritanya dari sudut pandang Diandra. Gadis cantik yang berprofesi sebagai model dan mempunyai pacar bernama – hayyo,,,, siapa yang tahu? Hahahahaha. Lupa saya. Dalam cerita tersebut aku ingin menjadikan seorang tokoh perempuan tersebut bergaya hidup hedonis tapi hampa akan semangat spiritual. Ada kehausan tersendiri didalam batinnya yang ingin ia basuh tapi tidak tahu dengan apa ia basuh rasa haus tersebut. Disaat seperti itu, datang tokoh yang bernama Firdaus – seorang mahasiswa keluaran pondok pesantren modern berhati lurus – secara tidak sengaja. Demikian dulu yang aku ceritakan saat ini.

  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

tinggalkan jejak dibawah ini
PS:
sekiranya ingin menambah tali silaturrahim, silahkan follow twitter saya di @RealRiMuTho