Arsip

Catatan Keempat

08.56.00

Belajar menjadi orang baik dan beradab yang sesuai dengan tuntunan agama tidaklah mudah. Butuh perjuangan yang berat dan lama agar bisa menjadi baik. Itupun kadang harus disertai ujian yang juga tidak mudah. Kadang ada saja ujian yang datang untuk menguji seberapa kuatkah seseorang bertahan menjadi orang baik? Kalau ia istiqomah maka ia akan diberi predikat lulus. Tapi bukan berarti ujian tersebut berhenti mendatanginya. Setelah seseorang tersebut bisa menyelesaikan sebuah ujian, maka pasti Allah akan mendatangkan ujian yang lebih berat lagi dari sebelumnya. Begitu seterusnya hingga Maaikat Izrail mencabut nyawanya. Tapi jangan takut dan jangan gundah. Allah tidak pernah memberikan ujian melebihi batas kemampuan seseorang. Allah juga tidak pernah memberikan sebuah ujian kemudian Ia meninggalkannya tanpa memberi petunjuk bagaimana caranya untuk menyelesaikan ujian tersebut. Itu Ia ucapkan dalam firmanNya dalam surat al baqarah ayat terakhir yang berbunyi laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa.
Namun masih saja banyak orang yang tidak bersyukur dengan ujian yang Allah berikan. Kok diberi ujian malah bersyukur? Bukankah harusnya istighfar? Ya, sebagaimana dalam paragraf diatas, jika seseorang tersebut mampu menyelesaikan ujian yang Allah berikan, maka serta merta Allah akan mengangkat derajat seseorang tersebut. Itu sudah pasti. Sebagaimana seseorang yang sedang bermain game, pasti seseorang tersebut diberi misi dan diberi tantangan – tantangan agar seseorang tersebut bisa naik ke level selanjutnya.
Sebagaimana seorang gamer yang jika ia sedang memainkan sebuah permainan butuh sebuah tutorial atau panduan untuk bermain, maka manusiapun juga diberi tutorial oleh Allah dalam menyelesaikan ujiannya. Yaitu berupa Alqur’an dan sabda Nabi Muhammad SAW. Tinggal seseorang tersebut mau mengikuti petunjuk yang Allah berikan melalui firmanNya yang ada di kitab alqur’an dan sabda Nabi yang berupa hadits atau mencari jalan lain. Biasanya, orang yang mencari petunjuk dalam menyelesaikan masalahnya diluar dua itu akan tersesat. Tidak jarang malah menimbulkan beragam kesulitan lainnya. Alih – alih terselesaikan, malah akan muncul ujian baru. Maka beruntunglah bagi seseorang yang menjadikan alqur’an sebagai sumber dalam mencari penyelesaian masalahnya.
Sungguh kasihan bagi seseorang yang tidak menjadikan alqur’an sebagai pedoman hidupnya dan kemudian dengan sombongnya ia mengatakan, “aku tidak butuh petunjuk Tuhan. Aku mampu menyelesaikan masalahku sendiri tanpa bantuan siapapun. Apalagi Tuhan”. Ah, orang seperti ini mungkin lupa dengan kisah – kisah masa lalu yang karena kesombongannya, ia dihancurkan oleh Allah. Sebagaimana kisah fir’aun dimasa Nabi Musa AS yang dengan sombongnya mengatakan, “ana’ robbukumul a’laa. Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.” Maka lihat, setelah dengan sombongnya ia berkata demikian, ia ditenggelamkan oleh Allah disebuah lautan. Bukan sampai disitu saja Allah mengadzabnya. Tapi kemudian Allah mengawetkan jasadnya sebagai bahan pelajaran untuk manusia manapun untuk tidak menyombongkan diri sedemikian rupa.
Memang, mungkin ada sedikit rasa sombong didalam hati manusia. Itu manusiawi. Tapi bukan berarti ia tidak mau bertaubat. Selama nafas masih dikandung badan, kesempatan untuk bertaubat masih terbuka lebar dan bersegeralah bertaubat karena kita tidak pernah tahu kapan Allah mencabut nyawa seseorang. Nabipun tidak pernah diberi tahu kapan seseorang tersebut mati kecuali hanya pertanda saja. Cara termudah untuk bertaubat adalah beristighfar dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Jika seseorang tersebut terlanjur mengucapkan, “Allah tidak adil” atau, “tidak ada yang bisa mengerjakan pekerjaan ini kecuali diriku” atau lagi, “hanya aku yang mampu menyelesaikan pekerjaan tersebut,” maka orang tersebut harus bersegera beristighfar dan berjanji untuk tidak mengatakan hal demikian lagi. Meski itu hanya didalam hati.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar

tinggalkan jejak dibawah ini
PS:
sekiranya ingin menambah tali silaturrahim, silahkan follow twitter saya di @RealRiMuTho