Arsip

setiap kata adalah sabda pendita ratu

08.43.00

“Setiap kata adalah sabda pendita ratu,” kata Dian Sastrowardoyo dalam film Ada Apa Dengan Cinta. Dia menulis puisi itu untuk sahabat – sahabatnya yang berjumlah empat orang. Dalam versi lengkapnya, dia menulis puisi tersebut untuk meneguhkan bahwa Carmen, Maura, Milli dan Alya sebagai sahabat sejatinya didunia ini dan tidak bisa apa – apa tanpa mereka.
Dia sebagai pemimpin “geng” dari kelompok tersebut harus selalu tampil sempurna dihadapan mereka. Tanpa satu apapun. Bahkan tentang cinta, dia harus memilih orang yang paling populer disekolahnya demi menaikkan popularitas kelompok mereka.
Menjadi pimpinan dalam sebuah kelompok itu ada enak, ada tidaknya. Salah satunya adalah dia harus tampil paling sempurna diantara mereka. Harus lebih baik daripada mereka. Dan dia adalah orang yang paling bertanggung jawab sembari membawa nama dari kelompok tersebut. Tapi jika ada sebuah kebaikan yang menjadikan nama kelompok tersebut naik, dialah yang pertama kali disebut.
Seperti itulah gambaran menjadi pemimpin dalam sebuah kelompok.
Setidaknya, aku – sebagai ketua Badaris cabang Fatmawati – harus menikmati semua permasalahan yang ada ditubuh Badaris sendiri. Itu baru ditingkat cabang, pastinya ditingkat pusat akan lebih sulit lagi.
Banyak hal yang harus dibenahi dan dilakukan demi memajukan kelompok ini. Ini demi tanggung jawabku juga dihadapan Allah. Jika sekiranya aku berhasil memimpin kelompok ini, insya Allah kalau diberi tanggung jawab lebih besar lagi akan bisa mengatasinya dengan baik. Dan pastinya kredibilitasku akan diperhitungkan oleh banyak orang. Itu akan “menjual namaku” sendiri nantinya. Setelah – setelah itu akan mudah. Khususnya dalam hal mencari rejeki.
Sekarang ini sulit sekali mencari rupiah. Barang – barang kebutuhan semakin tinggi sedangkan lapangan pekerjaan semakin sempit. Bila tak pintar – pintar dalam mencarinya, akan tergilas. Itupun terkadang masih bercampur dengan yang haram. Akan lebih sempit lagi jika kita benar – benar mencari yang halal. Tapi bukan berarti sebaiknya mencari harta yang haram. Sebab, semua yang diperoleh akan dipertanggung jawabkan oleh Allah SWT. Kalau yang percaya bahwa neraka itu ada, pasti akan sekuat tenaga mencari harta yang sesuai dengan alqur’an dan hadits Nabi SAW.
Entahlah.
Aku ingin sekali berwirausaha. Mengatur waktu sendiri; kapan harus bekerja, kapan harus libur. Sebab, aku ingin kegiatan menulisku tidak terganggu. Itupun hanya sementara. Hanya batu pijakan saja sebelum melangkah ke hal selanjutnya: menjadi penulis sesungguhnya.
Sejauh yang kuamati, menjadi penulis full time tidaklah mudah. Banyak rintangannya. Yang pasti, jangan berharap bisa mendapat kekayaan berlimpah dari menulis. Jangan berharap bisa mendapat kekayaan seperti seorang Bill Gates atau sejenisnya dari hasil menulis. Bahkan bisa dibilang siap – siap jatuh miskin jika hanya mengandalkan dari menulis saja.
Menulis adalah pekerjaan intelektual. Butuh pemikiran yang baik untuk menjadi penulis yang baik pula. Tidak boleh sembarangan dalam menulis sesuatu sebab ia bertanggung jawab kepada pembacanya. Jika ia memberi informasi yang menyesatkan, siap – siap ia dihujat oleh pembaca.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar

tinggalkan jejak dibawah ini
PS:
sekiranya ingin menambah tali silaturrahim, silahkan follow twitter saya di @RealRiMuTho