Arsip

singkatnya

00.07.00

Singkatnya, orang – orang yang berjuang atas nama Sekularisme, Liberalisme dan Pluralisme adalah orang – orang yang ingin memisahkan agama dengan segala hal yang berhubungan dengan mu’amalah linnas. Menurut mereka, agama itu hanya mengatur sholat, zakat dan puasa. Padahal jika dipelajari lebih jauh, agama juga mengatur tentang hubungan sesama manusia. Hubungan bertetangga, tentang adab atau akhlak dengan lawan jenis, dengan orang yang lebih tua.
Awalnya, liberalisme lahir karena ketidakpuasan para penganut agama kristen terhadap gereja. Karena pada waktu itu, kekuasaan gereja amat sangat besar. Ia bisa dengan sesuka hati memecat raja. Dan bisa “menjual” surga dengan harga yang sangat murah. Hanya dengan membayar “upeti” kepada gereja, seorang pendosa dijamin bisa masuk surga. Sekalipun dosanya sangat besar. Berzina misalnya, dalam sejarah kristen pada waktu itu, hanya dengan membayar kepada gereja, ia bisa bebas dari dosa dan bisa masuk surga. Maka jangan heran jika pada waktu itu, terjadi kejahatan dimana – mana.
Puncak dari ketidakpuasan penganut agama kristen terhadap gereja, Martin Luther mendirikan agama Kristen Protestan. Berawal dari kaburnya ia ke Jerman dan dilindungi oleh penguasa disana, ia mendirikan agama Kristen Protestan.
Maka dari itu, jika ada orang yang memperjuangkan kebebasan atas nama HAM, dapat dipastikan bahwa ia berpikiran liberal. Apalagi menyebut – nyebut Declaration of Human Right. Prof. K.H. Syukron Ma’mun dalam ceramahnya di Jakarta Islamic Centre menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia menawarkan kebebasan tapi bermoral. Kebebasan yang dibatasi oleh agama. Kebebasan yang dibatasi oleh alqur’an dan sunnah Nabi. Yang artinya, bebas melakukan apa saja asal sesuai syariat. Karena memang pada dasarnya, seseorang itu tidak bisa benar – benar bebas. Ia pasti dikekang oleh sebuah aturan. Tentu sesuatu yang membuat aturan itu derajatnya pasti lebih tinggi dari yang diatur. Seperti aturan yang dibuat presiden yang harus dipatuhi oleh rakyatnya, pasti derajat seorang presiden itu lebih tinggi dari rakyatnya.
Perlu diketahui, sesuatu yang lebih tinggi derajatnya daripada manusia hanyalah Tuhan. Siapakah Tuhan yang paling benar? Tentu Allah SWT. Bukan Yesus atau Sang Hyang Widhi. Mengapa demikian? Sebab, sejatinya Yesus itu adalah manusia. Silahkan baca novel The Da Vinci Code jika Anda ingin mengetahuinya*. Disitu tertulis tentang kebohongan sejarah Kristen yang berawal dari diangkatnya seorang manusia menjadi Tuhan.
Sebenarnya, Yesus itu adalah seseorang yang diserupakan oleh Allah. Berawal dari durhakanya Bani Israil terhadap Nabi ‘Isa, mereka ingin menyalib Nabi seperti yang Nabi – Nabi sebelumnya. Karena kemurahan Allah, Beliau diangkat oleh Allah ke ‘Arsy dan akan diturunkan lagi sebelum kiamat terjadi bersama Imam Mahdi untuk menumpas Dajjal. Dan, orang yang memprovokasi penyaliban Nabi ‘Isa diserupakan jadi seperti Nabi ‘Isa. Disaliblah ia ditiang dengan tangan terentang dan tanpa pakaian kecuali cawat. Seperti yang tergambar dalam gereja – gereja sekarang ini. Dalam sejarah kristen, disebutkan bahwa orang yang diserupakan dengan Nabi ‘Isa adalah Yudas Eskariot. Seorang Yahudi dalang dari upaya pembunuhan Nabi ‘Isa AS. Entah benar entah tidak. Yang pasti, Nabi Isa tidaklah disalib. Ia diangkat oleh Allah ke ‘Arsy – Nya dan akan diturunkan kembali untuk menumpas Dajjal bersama Imam Mahdi diakhir zaman. Menjelang kiamat tiba. Dan saat itu tiba, Dajjal la’natullah ‘alaihi dan bala tentaranya tidak bisa berkutik. *hal 348 – 390




  • Share:

You Might Also Like

0 komentar

tinggalkan jejak dibawah ini
PS:
sekiranya ingin menambah tali silaturrahim, silahkan follow twitter saya di @RealRiMuTho