Arsip

kenanganku tentang pesantren part 1

01.12.00

Aku adalah lulusan pesantren. Nyantri dari lulus SD hingga kelas 6 atau setara dengan SMA. Sistem pendidikan mengikuti pendidikan Gontor Ponorogo dan Salafi. Berbasis agama tapi tidak meninggalkan pelajaran yang sifatnya umum seperti mata pelajaran Biologi, Fisika, Matematika dan lain sebagainya. Tahun pertama di pondok pesantren tersebut, buku – buku yang dipelajari masih menggunakan bahasa indonesia meski setelah tiga bulan pertama berada disana, para santri diwajibkan memakai bahasa arab atau inggris. Setelah itu, sedikit demi sedikit mata pelajaran yang diajarkan berubah memakai bahasa arab atau inggris. Khususnya yang berkaitan dengan agama seperti mata pelajaran fiqih, hadits dan lain sebagainya. Meningkat terus menerus hingga saat kelas enam nantinya, perbandingan antara ilmu agama dengan ilmu umum adalah 75% berbanding 25%.
Hal – hal yang berkaitan dengan kedisiplinan, Pondok Pesantren Daarul Rahman – tempatku nyantri – memakai sistem semi militer. Tidak jarang sabetan sajadah yang dibalut kertas koran – yang saat dipukul ke tubuh santri yang telat sholat berjama’ah di masjid misalnya, hanya menimbulkan suara yang keras tapi tidak menimbulkan bekas yang berarti ditubuh santri yang kena pukul. Kalau pelanggarannya termasuk kelas sedang, cukuran cepak atau botak sudah menjadi kepastian. Jangan harap cukurannya rapih. Berantakan dan tidak beraturan yang membuat santri yang melanggar tersebut lebih baik memilih memakai peci daripada rambut yang kena cepak atau botak itu dibiarkan begitu saja. Karena akan menimbulkan rasa malu. Dari pengamatanku, hampir semua santri merasakannya.
Dalam hal kegiatan harian. Jadwalnya teramat sangat padat. Bukan maksudku memakai kalimat hiperbolik. Tapi memang kenyataannya begitu. Jam 3.30 mulai dibangunkan untuk sholat shubuh berjama’ah oleh santri yang memang ditugaskan untuk menjadi penjaga malam. Selesai sholat shubuh, kami mengaji kitab gundul* untuk santri kelas dua sampai kelas enam. Kitab yang dipelajari berbeda untuk kelas dua dan tiga dengan kelas lima dan enam. Untuk kelas dua dan tiga, mereka mempelajari kitab fathul qorib sedangkan untuk kelas empat sampai enam, kitab yang dipelajari adalah kitab fathul mu’in. Untuk santri kelas satu, biasanya mereka mengaji alqur’an disertai tajwidnya. Pada intinya, kegiatan harian pondok selalu dimulai dari jam 3.30 dan berakhir jam 22.00 alias jam sepuluh malam. Waktu istirahat diberikan hanya selesai sekolah atau jam 12. 45 sampai jam 14.30. Itupun biasanya para santri mengisi waktu tersebut untuk makan siang plus sholat dzuhur atau sekedar mencuci pakaian. Jangan harap bisa mengambil jatah makan siang dengan santai kalau tidak mau kehabisan. Biasanya lauk akan habis dengan sendirinya jam 14.00. Tak jarang jam 13.30, lauk sudah habis. Pengasuh pondok membuat kegiatan harian sebegitu padatnya, bertujuan agar para santri sibuk memikirkan hal – hal yang berkaitan dengan pesantren hingga tidak mempunyai waktu lagi untuk berfikir hal – hal yang berkaitan dengan rumah atau semacamnya. Toh, lagipula itu positif dan baik. Maka jangan heran kalau ada santri yang bisa tidur sambil duduk tegak, ngiler pula, saking letihnya. Semoga dengan padatnya jadwal kegiatan dipondok Pesantren Daarul Rahman, saat lulus nanti, sifat disiplin ala militer masih melekat dalam jiwa para santrinya.
Bukan itu saja. Agar para santri tidak bosan dengan kegiatan yang itu – itu saja, Majlis Guru dan para pengurus pondok membuat kegiatan yang sifatnya ekstra kurikuler. Ada sepak bola – biasanya dibedakan antar kelas. Misal, untuk kelas satu hari senin, kelas dua hari selasa. Begitu seterusnya, rebana – untuk santri putri, hadroh dan marawis. Kelas kaligrafi atau menulis arab indah dan latihan ceramah pun ada. Untuk latihan ceramah, biasanya diadakan malam minggu jam delapan sampai jam sepuluh malam. Bahasa yang dipakai untuk latihan ceramah ada tiga; arab, inggris dan tentu indonesia. Semua kelas dicampur kecuali kelas enam. Khusus kelas enam, mereka biasanya belajar kitab tsaqofatul islamiyyah, kalau tidak salah namanya. Sebuah kitab yang menjelaskan tentang bagaimana caranya menangkal pemikiran – pemikiran yang kelihatannya baik atau islami tapi padahal bertentangan dengan ajaran islam. Yang tujuannya untuk membingungkan umat islam itu sendiri dan menjadikan orang yang terpengaruh dengan ajaran – ajaran itu tidak bangga lagi dengan agama yang dianutnya. Dalam bahasa arab disebut ghozwul fikri.
NB:
Kitab gundul: kitab berbahasa arab tapi tidak ada harokatnya. Bahasa lainnya adalah kitab kuning.

  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. gan tulisannya bisa dirapihkan lagi biar enak di baca, pakai rata kanan-kiri, berikan paragraf di setiap barisnya. agar berkesan rapih.

    Baca Juga Tulisan Saya :
    Mengatur Perencanaan Keuangan untuk Masa depan
    Kioson Sebagai Jembatan Kesenjangan Digital UMKM
    Cara Mengatasi Anak Susah Makan dengan Laperma Platinum

    BalasHapus

tinggalkan jejak dibawah ini
PS:
sekiranya ingin menambah tali silaturrahim, silahkan follow twitter saya di @RealRiMuTho