Arsip

cerita pendek; sebuah proses kreatif

07.12.00

Dalam buku, KETIKA JURNALISME DIBUNGKAM, SASTRA HARUS BICARA karya Seno Gumira Ajidarma, aku menemukan pengakuan yang menarik dari Bondan Winarno yang sekarang lebih dikenal sebagai penilai makanan Nusantara yang sering wara – wiri di stasiun TV dengan jargon populernya, maknyos. Bahwa, cerpen – cerpennya justru “meletus” di saat kesibukannya sedang memuncak. Adakalanya ketika ia menghadapi deadline, justru ia menyisihkan semua pekerjaannya dan menyelesaikan sebuah cerpen. Lalu ia merasa lega. Dan membuat ia bisa menyelesaikan tulisan deadline seperti kesetanan.
Aku merasakannya. Saat sedang kacau, pusing tujuh keliling dan sedang dilanda kebingungan yang amat sangat, cerita malah mengalir dikepala, berputar – putar seperti ingin ditangkap dalam sebuah sangkar berbentuk microsoft word. Walau, belum tentu juga cerita itu bisa terselesaikan saat itu juga. Tapi setidaknya, saat aku mengalami keadaan seperti itu, ide mengalir seperti air.
Seperti beberapa saat lalu, saat aku sedang dilanda sepi, ide untuk membuat cerpen malah mengalir begitu saja. Cerita tentang pengkhiatan seorang kekasih yang membuat sebuah hubungan putus begitu saja tanpa sebab malah mengalir. Walau baru satu halaman dan berhenti ditengah jalan – lebih tepatnya aku memberhentikannya karena ada sebuah kesibukan yang tak bisa aku tinggalkan – tapi ide cerita tersebut berjalan dikepala. Endingnya pun sudah bisa kubuat. Tinggal alur dari opening menuju endingnya saja yang musti kubuat.
Hehehe, ide – ide tentang cerpen ini kudapat dari dua orang insan berlainan jenis kelamin. Bahkan beberapa. Seperti cerpen yang kupajang distatus Facebook – ku yang berjudul, “Aku mencintaimu, Andra”.
Dengan bangga kukatakan, “hanya seorang pengarang yang bisa memanipulasi cerita. Bahkan menjadi pemasukan darinya”. Seperti sebuah cerita, yang sebenarnya ia sangat mencintai seorang gadis, bisa ia ubah dengan seenak jidatnya menjadi gadis itu yang menyukainya dan mengejar – ngejar dirinya. Dengan bahasa yang lebih tinggi lagi, seorang pengarang adalah Tuhan dalam ceritanya. Bisa seenak jidatnya ia mematikan atau menghidupkan seorang tokoh. Sekalipun itu tokoh utama dalam cerita. Bisa memanipulasi, yang sepertinya happy ending, eh, tahu – tahunya malah sad ending.
Tapi harus diakui, perlu beberapa perbaikan agar “pesan” dalam cerita yang kubuat bisa tersampaikan betul – betul kepada pembaca. Lebih tepatnya mungkin bisa disebut dengan jam terbang. Belum pernah cerpenku masuk koran atau media online. Sebab, aku takut, tulisanku ditolak. Mungkin, aku perlu beberapa orang – atau satu orangpun tak apa – yang mau dan sudi untuk menilai ceritaku dan menilai, apakah cerita itu layak dimuat atau tidak. Untuk yang ini, aku masih dalam tahap pencarian. Ada sih, dua orang. Tapi butuh pendekatan yang lebih intens lagi. Semoga ia mau menjadi penilai atau pendampingku dalam menulis. Amin.
Karena ketakutan ceritaku ditolak itulah, aku membuat blog ini. Diblog, aku bisa sesuka hati menulis apa saja tanpa ada orang yang mengedit atau menolak tulisanku. Sebab, aku adalah pemilik dari blog tersebut. Semoga saja karena lancarnya aku menulis didalam blog, rasa percaya diriku muncul dan membuat aku percaya diri mengirimkan cerita ke media. Entah itu cetak semisal majalah atau elektronik seperti situs berita yang ada diinternet.
Bolehlah dikatakan, blog adalah ajang latihan menulisku. Bahkan bisa jadi, dengan seringnya aku menulis diblog ini, penerbit ada yang melirik dan tertarik untuk membukukannya. Ngarep.com.





  • Share:

You Might Also Like

0 komentar

tinggalkan jejak dibawah ini
PS:
sekiranya ingin menambah tali silaturrahim, silahkan follow twitter saya di @RealRiMuTho