Arsip

konvensional vs online

07.19.00

Malam hari adalah waktu yang paling nikmat untuk menulis karena malam biasanya adalah waktu yang sepi tanpa suara apapun. Sangat pas untukku karena biasanya aku tidak bisa menulis jika suasana sedang ramai atau ada suara bising. Makanya saat menulis biasanya aku sambil mendengarkan musik via headset di telinga. Tak ada hal yang unik yang bisa diceritakan disini. Aku juga lagi jarang menonton televisi. Berita apalagi. Yang kutahu hanyalah berita tentang demo supir bluebird terhadap pengemudi taksi berbasis online. Itupun hanya sekilas tanpa mengetahui dengan jelas apa tuntutan mereka.

Beredar dalam message di grup whatsapp yang tidak menyetujui aksi pengemudi taksi konvensional tersebut dengan berbagai alasan. Terutama tentang kesenjangan teknologi. Yang satu berbasis online yang bisa dipesan dengan hanya mengklik via telepon genggam. Yang satu harus menelpon ke taksi tersebut atau menyetopnya jika lewat. Akupun kalau ditanya, lebih suka mana, memesan taksi dengan cara memesan via telepon selular atau memesan taksi dengan cara menelponnya? Aku pasti menjawab lebih menyukai memesan taksi dengan cara memesannya via telpon selular. Karena alasan kepraktisan.

Meski begitu, sekalipun aku tidak pernah memesan taksi atau ojek via online karena aku belum memerlukan hal tersebut. Aku masih punya motor untuk bepergian dan kalaupun terpaksa motor tidak bisa dipakai, aku lebih suka naik kendaraan umum karena faktor biaya yang lebih murah. Tapi sepertinya untuk mendapatkan pengalaman baru, tidak ada salahnya kalau aku memesan kendaraan umum yang berbasis online tersebut.
Kalau boleh saran, tidak ada salahnya perusahaan taksi konvensional merambah ke sesuatu yang bersifat online agar bisa bersaing dengan perusahaan taksi berbasis online. Ini hanya sekedar saran dari seseorang yang kurang memahami akar dari sebuah masalah tersebut dan hanya memandang dari segi kesenjangan teknologi.

Aku sangat memahami kalau ada kekhawatiran berpindahnya pelanggan dari yang konvensional ke yang berbasis online. Kalau begitu kekhawatirannya – malah mungkin sudah terjadi – harusnya mengupgrade perusahaan tersebut. Beralih dari yang berbasis konvensional menjadi berbasis internet. Tak perlu protes ke DPR lalu melakukan aksi anarkis dengan memukuli supir ojek online layaknya preman pasar. Alih – alih mendapat simpati publik, yang ada malah mendapat banyak kecaman dari masyarakat. Kemudian, untuk menjaga pelanggan agar tidak beralih ke perusahaan taksi lainnya, maka lakukan inovasi seperti mencoba untuk memberikan servis lebih dan sebagainya tergantung kebijakan perusahaan tersebut. Selesai urusan!
Tak perlu alergi dengan perkembangan teknologi. Malah, harusnya kita malu dengan negara – negara lain yang sudah lebih maju daripada Indonesia. Padahal sama – sama manusia. Sama – sama mempunyai dua tangan, dua lubang hidung, dua kaki dan sebagainya. Terus, kenapa kita masih tertinggal dengan negara lain dalam bidang teknologi? Apa yang salah dengan negara ini? mengapa ekonomi negeri ini carut – marut? Hutang negara bertumpuk? Sering diremehkan oleh negara lain? Kita harus melakukan instropeksi diri. Kemudian memperbaikinya secepat mungkin. Kalau perlu, belajar dari negara lain yang sudah lebih maju dari Indonesia. Tidak ada salahnya bukan?

Tak perlu jumawa dengan selalu membanggakan diri bahwa Indonesia adalah negara kaya. Memang, perlu diakui kalau Indonesia adalah negara yang kaya raya tapi SDM – nya minim. Kekurangan tenaga ahli yang mumpuni.

  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. Menurut saya jika para pesaing yang online, seperti GO-JEK, GRAB, dll harus meningkatkan kualitasnya dalam pelayanan, jangan hanya demo saja, tetapi tidak bertindak memperbaiki atau meningkatkan kualitasnya.

    BalasHapus

tinggalkan jejak dibawah ini
PS:
sekiranya ingin menambah tali silaturrahim, silahkan follow twitter saya di @RealRiMuTho