Arsip

pondok pesantren;keberkahan ilmu

03.03.00

Sebagai alumnus sebuah pondok pesantren, Aku merasa bangga dan beruntung. Karena aku bisa belajar islam lebih intensif dibanding orang yang belajar agama disebuah sekolah umum yang notabene mereka harus pulang – pergi ke sekolah dan perhatian para guru kepada muridnya kurang. Sedangkan dipesantren, perhatian guru sangat amat besar. Dua puluh empat jam mereka diperhatikan betul. Saat menemukan pelajaran yang tidak dimengertipun, mereka bisa langsung mendatangi guru mereka tanpa harus menempuh jarak yang jauh seperti disekolah umum.
Dan juga, aku bisa bertemu dengan para guru yang ikhlas dalam hal mentransfer ilmu. Semangat mereka mengajar di ponpes tersebut bukan karena uang, tapi karena mengabdi kepada agama dan sebagai wujud terima kasih mereka kepada para guru – guru yang telah memberikan ilmunya secara ikhlas pula. Dan mereka juga didoktrin oleh pengasuh pondok untuk menjadi guru. Mereka tidak memandang gaji karena mereka yakin keberkahan dari ilmu yang mereka dapatkan itu lebih penting daripada uang yang akan mereka dapat. Semangat mereka adalah mencari ilmu sebanyak – banyaknya kemudian mengajarkannya kembali.
Keberkahan ilmu.
Sedikit sekali orang yang memahami itu dan lebih sedikit lagi orang yang mengejarnya. Biasanya mereka hanya mengejar bagaimana caranya agar bisa mendapatkan harta yang banyak dari ilmu yang mereka dapatkan. Tidak buruk sih, terlebih cara mendapatkan harta yang banyak itu dari jalan yang dihalalkan Allah SWT. Tapi kalau jalan yang dipilih untuk mencari harta adalah jalan yang bathil. Jalan yang tidak diridhoi oleh Allah. Nah, itu yang bahaya.
Cara untuk mendapatkan keberkahan ilmu itu cukup banyak. Selain mengamalkannya, cara untuk mendapatkan keberkahan ilmu adalah mentaati segala perintah guru selama itu tidak bertentangan dengan syari’at. Bahkan, dari cerita Kiyai atau pengasuh pondok pesantren tempatku belajar, beliau rela menjadi jongos gurunya demi mendapatkan keberkahan ilmu. Entah mengisi bak mandinya atau lain sebagainya.
Halal menurut agama.
Sesuatu yang jarang dikejar pula oleh para penuntut ilmu. Biasanya mereka hanya mengejar kehalalan menurut negara. Padahal hukum negara mengikuti hukum agama. Hukum agama, diatas hukum negara. Terlebih untuk negara yang mengaku mayoritas islam. Padahal ada kehidupan abadi setelah dunia. Semua hal yang kita kerjakan didunia akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. Untuk orang yang tidak mentaati peraturan yang telah diberikan Allah SWT, nerakalah balasannya. Mayoritas, ilmu yang mereka dapatkan, mereka gunakan untuk menipu orang lain. Korupsi. Jika harta hasil korupsi mereke tercium oleh hukum, berbondong – bondong mereka mencari kambing hitam untuk dijadikan tumbal. Semoga kita tidak demikian.
Banyak hadits dan firiman Allah Ta’ala yang menyebutkan bahayanya korupsi. Seperti yang termaktub dalam surat ali ‘imron ayat 61 yang artinya:

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” ( Ali Imran : 161 )

Ciri – ciri ilmu seseorang berkah adalah ilmunya bisa bermanfaat untuk orang lain. Rasa cintanya kepada Alla SWT juga lebih besar lagi daripada sebelumnya.


  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

tinggalkan jejak dibawah ini
PS:
sekiranya ingin menambah tali silaturrahim, silahkan follow twitter saya di @RealRiMuTho