Arsip

ingatan masa lalu

02.23.00

Kurang lebih satu minggu yang lalu ada sebuah momen yang mungkin sebagian orang tidak mengetahuinya. Akupun, kalau boleh jujur, tidak tahu. Aku mengetahui momen tersebut secara tidak sengaja. Ada seorang teman yang memperbarui statusnya di BBM, “selamat hari anak nasional.” Aku tersentak. Merasa bodoh. Mengapa aku tidak mengetahui momen tersebut sedangkan aku sendiri pernah merasakan hidup sebagai anak – anak. Semenjak aku lahir hingga berusia sekitar 16 tahun, aku tinggal di Bekasi Timur. Pondok Timur Indah tepatnya. Alhamdulillah, lingkungan disana sangat kondusif. Para orang tua disana sangat akrab. Masjid hidup. Aroma saling tolong menolong sangat kental sekali. Kebahagiaan selalu menyeruak selama aku tinggal disana. Sayang, hal itu tinggal kenangan. Aku sekarang tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan. Dekat markasnya Habib Hasan Nurul Musthofa. Untuk orang seusiaku, masa kecil adalah masa yang manis. Tidak perlu memikirkan hal lain kecuali main dan main. Tujuh pahlawan, gobak sodor, galaksin dan futsal. Hampir setiap hari kami bermain permainan seperti itu. Terutama malam minggu. Sudah seperti kewajiban tak tertulis untuk main. Saling samper. Setelah puas, biasanya kami berkumpul untuk sekedar bercerita. Kadang – kadang cerita horor yang seringnya tidak masuk akal. Kami akan bubar dengan sendirinya jika salah satu orang tua dari kami ada yang memanggil untuk pulang kerumah karena sudah malam. Hm....... sebuah kenangan yang indah dan tak bisa kulupakan sampai sekarang. Meski kita sudah berpisah, kami masih saling komunikasi. Sekedar menanyakan kabar. Seperti waktu kakakku nikah belum lama ini. Yang tidak berhalangan – kerja atau sakit – pasti menyempatkan diri untuk datang. Disini, di komplek rumahku sekarang, fasilitas bermain untuk anak – anak sangatlah sedikit. Ah, apakah karena disini anak – anak cukup sedikit dibanding dirumahku yang dulu? Entahlah. Yang pasti, sedikit anak – anak disini yang berkumpul untuk bermain. Kalaupun ada, agak sedikit ganggu. Bikin kuping panas. Yang pasti, aku merindukan teman – teman masa kecilku. Ade, Ifan, Tina – sahabatku satu sekolah, Shopia, Acil, Adit, Eca, Aji – yang sekarang sudah menikah dan tinggal di bandung *barokallahu fiik* dan yang lain – lainnya. Dan juga, aku merindukan guruku yang mengajariku huruf hijaiyyah. Pak Budi Basuki dan guru mengajiku yang mengajari aku baca alqur’an dan bahasa arab sebelum aku masuk ke pesantren ; Ustadz Bagus *jasamu tak pernah kulupa* Semoga aku bisa bertemu kalian dalam waktu dekat ini untuk sekedar melepas rindu.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar

tinggalkan jejak dibawah ini
PS:
sekiranya ingin menambah tali silaturrahim, silahkan follow twitter saya di @RealRiMuTho